PERCANDIAN karawang YG MENGGUNCANG DUNIA





Tiba tiba terbersit candi Jiwa di benak … tidak tahu kesambet apa, muncul saja di Sabtu sore yang santai. Memang sudah lama ingin jalan2 kesana … tapi tertunda tunda dengan 1001 alasan ; jauh, panas, ngga ada teman, ngga ada mall, kucing tetangga beranak …
Meskipun alasan banyak .. tapi kalau hati sudah mantap … tidak ada yang bisa menghalangi, malam minggu disiapkan segala perlengkapan lenong jadi bisa berangkat langsung pagi2, jam 5-an cabut …. biar tidak terlalu kepanasan dan bisa pulang cepat karena sorenya ada urusan … tapi tetep akhirnya pergi jam 6-an lebih …
Gowes pagi menyusuri BKT, masuk ke perumahan Harapan Indah (HI) yang ternyata sekarang menerapkan area CFD jadi rame banget sama yang berolah raga .. dulu sepi sepi aja kalau minggu lewat sini … keluar dari perumahan HI melewati jalanan2 becek tergenang air … di daerah sini sungainya berada di atas jalanan dan perumahan … koq bisa begitu ya … kayaknya daerah sini pasti tergenang air kalau hujan besar dan air meluap.
slide2
di daerah Babelan Bekasi
Perjalanan lanjut melewati perumahan Mutiara Gading City, stop dulu di mini market beli roti dan pisang duduk rehat sambil sarapan di kursi di depan toko. Lumayan dapat asupan energy … lanjut melalui Babelan melewati tambang2 gas Pertamina … melewati jalanan2 perkampungan, pesawahan yang membentang … disinari kehangatan matahari pagi membuat gowes bersemangat.
slide3
Bersiap menyebrang sungai Eretan
slide4


Sampailah di penyebrangan sungai Eretan …. Untuk menyebrang harus naik perahu yang ngetem menunggu penumpang penuh … tidak menunggu lama perahu penuh … Saya perhatikan bayar berapa sih … ternyata orang2 mengeluarkan 2.000 perak untuk bisa sampai ke seberang. Dari beberapa perahu … ada yang penariknya cewe … weww si mbak yang tangguh. Kalau panco mungkin saya akan dibanting sama doski  🙂

Lanjut lagi melalui jalanan2 sepi yang rata2 beraspal atau beton cor mulus … beberapa kali saya terlewat jauh belokan yang harus saya ambil berdasarkan panduan GPS, karena keenakan gowes di jalan mulus sehingga terlewat lumayan jauh, ga ada panduan mode suara sih di gps ini … sehingga harus berputar kembali. Ketika sampai di daerah Pebayuran berarti sudah dekat ke penyebrangan sungai Citarum …. asyikk sebrang sungai lagi … naik perahu lagi. Sungai Citarum di daerah sini di tanggul tinggi di kanan kirinya, menaiki dulu tanggul dan turun kesungai. Penyebrangan di sini sepi … tidak seramai Eretan. Jadi setiap ada penumpang perahu langsung disebrangkan … tidak tahu bayar berapa, saya kasih aja lebih.
slide5
menanti untuk menyebrang sungai Citarum


asal ada penumpang .. langsung nyebrang
Semakin bersemangat karena sudah semakin dekat … setelah masuk ke jalan raya yang menuju pantai Karawang, saya kemudian belok kanan dan tak lama kemudian sampailah di area candi Batujaya. Masih sepi …. jam 9 pagi lewat sedikit. Untuk masuk ke area candi .. ditarik bayaran seikhlasnya …


Membelah pesawahan menuju candi Jiwa


candi Jiwa yang belum selesai di restorasi
Candinya ada di tengah pesawahan … candi pertama adalah Candi Jiwa dan di bagian belakangnya ada candi Blandongan. Saya duduk rehat di bawah pohon …. suasana sepi dan hening … buka perbekalan camilan dan memandangi reruntuhan candi Jiwa. Terbayang suasana zaman dahulu disini … daerah pesawahan ini pada zaman dahulu adalah daerah yang penting, ini adalah area komplek candi besar karena banyak bangunan2 candi di area ini.
Menurut catatan, area candi peninggalan agama Budha ini ditemukan pada tahun 1984 ketika tim Fak Sastra Universitas Indonesia melakukan penelitian situs Cibuaya. Kemudian pada tahun 1985 dimulailah penelitian lebih intensif terhadap gundukan gundukan tanah di daerah ini. Dan baru pada tahun 2005 pemerintah pusat melalukan penelitian dan memulai restorasi. Sampai saat ini baru 4 titik candi yang mulai dipugar, dari sekitar 40 titik candi yang tersebar di area ini.
Berdasarkan informasi, ada yang menyebutkan area komplek candi ini dibangun antara abad 4 sampai 5 Masehi ada juga yang menyebutkan pada abad 6 sampai 7 masehi, pada masa kerajaan Tarumanegara. Ada juga yang menyebutkan pada abad 7 sampai 10 masehi .. mana yang bener sih … #@$%&^

Pokoknya candi ini berdasarkan penelitian pada batuan yang digunakan umurnya lebih tua daripada candi Borobudur. Bangunan2 candi disini menggunakan struktur batu bata merah dan ini merupakan bukti yang mematahkan anggapan bahwa candi yang terbuat dari bata berasal dari masa relatif muda dibandingkan candi yang terbuat dari batu seperti Borobudur, Prambanan dll. Kemungkinan di daerah Jawa Barat, hanya candi ini yang dibangun dari batu bata.

Masyarakat menyebut candi Jiwa, karena jika menggembalakan kambing di area candi ini maka kambingnya akan mati. Benar atau tidak … tanyakanlah kepada penduduk setempat.


Area candi Blandongan lebih besar dan luas


tidak ada relief relief cerita di dinding candi
Dari candi Jiwa saya melanjutkan ke candi Blandongan, letaknya di belakang candi Jiwa, area candi Blandongan lebih besar dan merupakan candi utama di area candi Batujaya. Pada saat penelitian dan penggalian, diketemukan beberapa fosil manusia yang diperkirakan berasal dari zaman prasejarah, di prediksi berasal dari abad 2 dan 4 masehi. Hmmm … menarik ya .. semakin misterius.

Jadi sejak zaman dahulu … ketika daerah kota seperti Jakarta yang sekarang padat sumpek masih berupa hutan belantara, daerah Batujaya sudah menjadi “kota” dan tempat tinggal orang orang yang memiliki peradaban tinggi. Ada yang berpendapat bahwa daerah Batujaya ini sudah dihuni sejak abad ke 2 dan terus berkembang sampai abad ke 7. Dan kemungkinan mulai ditinggalkan karena terkena bencana alam, daerahnya selalu terkena banjir luapan sungai Citarum.

Jalan jalan di lanjutkan …. saya ingin ke Candi Serut … lokasinya terlihat cukup dekat dari Candi Blandongan … tapi sayangnya jika mau kesana harus kembali memutar lewat jalan raya, karena tidak ada jalan khusus yang melewati pematang sawah. Kata petugas, di daerah sana ada 2 candi.

Saya kembali kearah pintu masuk komplek candi Batujaya. Di sekitar jalan masuk di area jalan desa-nya ada museum candi Batujaya. Di sini disimpan artefak2 yang di ketemukan di area komplek candi Batujaya. Untuk masuk museum juga dikenakan tiket seikhlasnya … disini memang mesti serba ikhlas supaya hidup kita tenang dan damai.

Untuk menuju candi Serut, saya kembali ke jalan raya terlebih dahulu dan kemudian berbelok ke kanan tepat di sisi masjid besar, terus saja masuk kedalam. Tidak lama kemudian sampailah mentok di ujung jalan mobil. Ada area parkiran dan bangunan. Ternyata di bangunan tersebut ada reruntuhan candi Telagajaya atau disebut juga candi sumur, mungkin karena bentuknya yang tidak besar dan terendam oleh air.


dibawah bangunan ini adalah candi Telagajaya


Mau ke candi Serut … kemana jalannya, dari jauh terlihat tapi jalan masuknya mana euy …. tidak ada papan petunjuk … bagaimana ini … Tanya sama akamsi yang lewat (anak muda sini) … ternyata harus melewati gang perkampungan penduduk. Akhirnya sampai juga di candi Serut yang terletak di sisi perumahan penduduk yang berbatasan dengan pesawahan. Candi Serut masih dalam tahap restorasi juga.
Tidak ada tiket masuk ke candi Serut dan candi Telagajaya .. karena tidak ada yang jaga … kayaknya juga jarang sekali wisatawan datang kesini. Kedua candi ini tidak sengetop candi Jiwa dan candi Blandongan.
Jika ke 40-an candi yang tersebar di area seluas 5 km persegi semuanya di restorasi …. pasti tempat ini akan sangat menarik, menjadi komplek candi terbesar …. akan banyak wisatawan datang kesini dan menghidupkan pariwisata dan perekonomian daerah Karawang.
Komplek candi Batujaya sudah di daftarkan sebagai Warisan Kebudayaan Dunia ke UNESCO. Jika disetujui, maka akan mendapatkan aliran dana hibah UNESCO untuk merestorasi dan merawat komplek candi ini. Ya semoga saja usulan ini di terima oleh UNESCO.
Matahari makin bersinar terik … saya memutuskan untuk pulang. Setengah perjalan matahari terasa begitu menyengat dan membuat badan cape dan kelaparan. Ditengah perjalanan karena belum menemukan tempat enak untuk mengaso, akhirnya saya berhenti dulu di toko kelontong kecil, duduk ngemil2 di emperannya, melihat jam … sudah jam 12. Saya lanjutkan lagi …. sekarang suasana berubah …. langit mendung dan angin bertiup kencang dari depan …. kenapa anginnya bertiup dari depan sih …. bukannya dari belakang supaya bantuin dorong … ini malah menahan laju gowesan …. serasa gowes menanjak …. pesan istri … kalau lagi gowes dan angin bertiup dari depan … supaya cepat .. gowesnya mundur saja … wakkksss ide yang sangat cemerlang yang tidak pernah kepikiran sama saya.
Gowes “menanjak” ini membuat tambah lapar .. ganjel cemilan seperti tidak ngaruh … akhirnya ketika menemukan tempat yang nyaman untuk mengaso ; tempatnya bersih dan enak untuk rehat … menjual soto ambengan, saya berhenti makan siang …. tapi nasinya keras dan rasanya dibawah standar … pantes di jam makan begini .. tempatnya koq sepi ya .. hehehe
Meskipun rasanya begitu .. tapi tubuh terasa benergi lagi … gowesan semakin bersemangat dan menggowes lebih cepat supaya tidak kehujanan di jalan dan akhirnya tiba di rumah jam 13-an dengan sehat dan selamat.
Lokasi

Komplek candi Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa ; Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Koordinat Googlemaps -6.056966, 107.154748






Tidak ada komentar