Mesjid Agung Karawang Masa Lalu tinggal Kenangan


Masjid Agung Karawang menyimpan sebuah sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah propinsi Jawa Barat Bangunan masjid yang kini berdiri megah itu memang bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali di bangun oleh Sheikh Quro. Telah mengalami Beberapa Renovasi, perbaikan, hingga pembangunan kembali oleh para Bupati Karawang tempo dulu hingga para bupati di era Kemerdekaan turut andil dalam mempermegah dan memperindah masjid bersejarah ini. Masjid Bersejarah ini di perkirakan jauh lebih tua dari masjid demak.



Masjid Agung Karawang terletak di Jalan Alun – Alun Barat Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat Indonesia.



Masjid Agung Karawang dibangun oleh seorang Waliyullah yang bernama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang atau Syech Qurotul’ain pada tahun 1340 Saka atau tahun 1418 Masehi atau sekitar pada abad ke 15.



Waliyullah yang bernama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang atau Syech Qurotul’ainitu merupakan seorang Qori yang bersuara merdu ketika sedang membacakan atau melantunkan ayat suci Al-Qur’an.



Kemerduan suara yang di lantunkan oleh Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang ini, rupanya didengar oleh seorang wanita yang bernama Ratna Sondari. Ratna Sondari ini merupakan putrinya Ki Gedeng Karawang, yang pada waktu itu sedang belajar mengaji di Paguron atau Pesantren Quro Karawang. Lambat laun akhirnya Ratna Sondari jatuh cinta kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang, dan kemudian Syech Quro dan Ratna Sondari akhirnya menikah di Pesantren Quro atau di Masjid Agung Karawang.



Hasil pernikahan antara Syech Quro dan Ratna Sondari, dikaruniai seorang anak laki – laki yang bernama Ahmad, yang kelak ketika setelah dewasa Ahmad menjadi penerus perjuangan sang ayah menyebarkan ajaran Agama Islam di Karawang dengan sebutan nama Syech Ahmad.



Perkembangan Pesantren Quro di Karawang sangat pesat, banyak santri-santri yang berada di luar Karawang untuk belajar di Pesantren Quro.



Pada awalnya Masjid Agung Karawang ini merupakan sebuah pondok pesantren yang bernama Pesantren Quro dan sekaligus Mushola kecil untuk tempat mengaji dan sholat 5 waktu bagi para Santrinya termasuk Nyi Subang Larang dan para Warga Karawang. Masjid Agung Karawang berbentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) yang memiliki empat tiang utama, bentuk atap Limas bersusun Tiga yang melambangkan : Iman, Islam dan Ihsan.



Di Masjid Agung Karawang ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu peristiwa pernikahan antara Nyi Subang Larang putrinya Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon dengan putra mahkota kerajaan Pajajaran putra dari Prabu Angga Larang  yang bernama Raden Pamanah Rasa. Pernikahan antara Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa berlangsung pada tahun 1344 Saka atau tahun 1422 Masehi, dan sebagai penghulunya pada waktu itu adalah Syech Hasanudin atau Syech Quro Karawang.



Hasil dari pernikahan tersebut, mereka ( Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa ) di karuniai 3 orang anak yaitu :


  1. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat ( Yang lahir pada tahun 1345 Saka atau tahun 1423 Masehi ).
  2. Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im ( Yang lahir pada tahun 1348 Saka atau tahun 1426 Masehi ).
  3. Raja Sangara atau Raden Kian Santang ( Yang lahir pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi ).
  4. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat ( Yang lahir pada tahun 1345 Saka atau tahun 1423 Masehi ).
  5. Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im ( Yang lahir pada tahun 1348 Saka atau tahun 1426 Masehi ).
  6. Raja Sangara atau Raden Kian Santang ( Yang lahir pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi ).




Renovasi, Perbaikan Masjid Agung Karawang
Adipati Singaperbangsa, Bupati Karawang (memerintah 1633 - 1677 M.), semula berkantor di daerah Udug-udug.



Karena berbagai pertimbangan, beliau kemudian memindahkannya ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini telah ada pasar, masjid Agung, dan sarana penunjang lain, termasuk pelabuhan itu sendiri yang memperlancar kegiatan lalu lintas perdagangan, pemerintah, dan sebagainya. di dekat masjid Agung di bangun alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin di bagian kanan kirinya, kantor dan pendopo kebupaten, kantor keamanan, dan tempat tahanan.



Adipati Singaperbangsa memperindah bangunan masjid dan di renovasi di selaraskan dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.



Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya. Karawang dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC/Kompeni di Batavia.



Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan memotivasi masyarakat agar berperan serta dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraannya.



Adipati Singaperbangsa wafat pada tahun 1677 M. dan di makamkan di Manggung Ciparage karawang.
Tiga Bupati penerusnya masing masing Panatayuda I, II ,dan III tidak berkantor di Babakan Kartayasa. Mereka juga tidak melanjutkan perbaikan terhadap Masjid Agung Karawang.



Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I 
Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I (menjabat 1677 - 1721 M) berkantor di Waru dekat Loji, Pangkalan. Raden Martanegara atau Panatayuda III (menjabat 1732 - 1752 M) juga berkantor di sana.



Pada masa Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV(memerintah 1752 - 1786M), kantor Bupati di pindahkan kembali ke Babakan Kertayasa. Bupati V ini dikenal sebagai dalem nalon.



Bupati ini mendapat kehormatan "naik nalon" dari pemerintahan Kolonial Belanda dan pada waktu itu hal tersebut jarang terjadi. Ia termasuk pembina Masjid Agung, sehingga setelah wafat ia dimakamkan dekat masjid ini. Pada 1993 atas persetujuan para sesepuh, kerangka jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang di Desa Manggung Jaya, Cilamaya.



Masjid Agung Karawang Pada Masa Penjajahan Kolonial Belanda
Sejak masa Bupati Karawang VI sampai Bupati Karawang IX yakni antara tahun 1786 - 1827, tidak ada petunjuk dilakukannya perbaikan yang berarti apalagi perluasan bangunan dan sebagainya.



Hal ini dikarenakan sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai Bupati XXI atas kebijakan pemerintahan kolonial Belanda tidak lagi berkantor di kota Karawang, tetapi ke Wanayasa dan Purwakarta.



Kondisi ini dapat dipahami apabila para bupati yang berkedudukan di Wanayasa dan Purwakarta perhatiannya kurang terhadap pembinaan Masjid Agung secara langsung. Kemunginan tugas pembinaan ini dipercayakan kepada wedana atau camat yang bertugas di kota Karawang.
.
Masjid Agung Karawang Pada Masa Kemerdekaan
Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat, maka kabupaten Karawang terpisah dari kabupaten Purwakarta dan Ibukotanya kembali di Karawang.



Adapun Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959. Pada 1950 atas persetujuan para ulama dan umat Islam, Masjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 meter, ditambah menara ukuran kecil dan sebuah kubah berukuran 3 x 3 meter dengan tinggi 12 m, dengan atap yang terbuat dari seng. Adapun luas tanah masjid termasuk makam adalah 2.230 meter.



Bangunan Masjid Agung Karawang yang kini kita lihat berdiri megah di pusat kota Karawang adalah bangunan hasil renovasi yang diresmikan pada 28 Januari 1994 oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. Prasasti ditandatangani oleh Bupati Karawang H. Sumarno Suradi dan Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Jamil Safiuddin.



Sedangkan bangunan menara yang menjulang tinggi di depan masjid diresmikan oleh Bupati Karawang H. Dadang S. Muchtar pada 11 Agusutus 2006.




Arsitektur Masjid Agung Karawang
Sejatinya Masjid Agung Karawang dibangun dalam arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar, dengan atap limas bersusun tiga, dengan empat sokoguru utama menopang atap masjid. Plafon masjid dibiarkan terbuka untuk memberi ruang bagi masuknya cahaya matahari ke dalam ruang masjid dan bagi kepentingan sirkulasi udara. Bagian dalam masjid dibangun dua lantai berbentuk mezanin memberi ruang terbuka cukup luas di bagian depan masjid bagi jamaah di lantai dua untuk dapat melihat ke lantai utama masjid.



Di tiga masjid berdiri kokoh masing-masing 6 pilar bundar cerminan enam rukun Islam. Ketiga sisi masjid agung ini dibangun dengan dinding berkerawang atau berongga, sehingga tidak hanya memungkinkan sirkulasi udara secara alami, tetapi juga menciptakan keindahan tersendiri bagi bangunan masjid ini. 



Di sisi selatan masjid berdiri gedung remaja masjid dan tempat bersuci. 
Sementara itu, di sisi mihrab lantai dua juga di fungsikan sebagai kantor pengelola masjid.



Pada sisi mihrab di bagian kiri dan kanannya terukir indah kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran besar. 



Kaligrafi Al-Quran juga terlukis indah di sisi kiri dan kanan dinding masjid bagian dalam. Kaligrafi dan lukisan geometris turut memperindah sisi mihrab masjid ini.



Layaknya masjid khas yang ada di Indonesia, di sisi selatan masjid ini juga berdiri bangunan kecil terpisah dari masjid.



Sebuah bangunan tempat menyimpan dua buah beduk dalam ukuran besar lengkap dengan kentongan yang juga dalam ukuran besar. 



Masjid agung yang begitu megah dan besar ditambah dengan pelataran depan yang sudah dilapis dengan keramik ini begitu meriah selama bulan Ramadhan.



Terutama di dua hari raya Islam, jamaah masjid ini membludak hingga ke alun alun dan jalan raya disekitarnya. Subhanallah, sebuah pemandangan yang begitu indah.




Sumber :

Tidak ada komentar